Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Ramadhan

ramadankareem1

Dalam sejarahnya, ada begitu banyak peristiwa penting yang pernah terjadi di bulan Ramadhan. Peristiwa-peristiwa tersebut mengajarkan kita bahwa bulan Ramadhan bukan bulan bermalas-malasan, bukan bulan berlelah-lelahan dengan mengatasnamakan “lelah karena sedang berpuasa”. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bulan Ramadhan mestinya adalah bulan meningkatnya produktifitas, karena syiar yang dibawa bulan Ramadhan dengan puasanya adalah syiar kekuatan, kesungguhan dan meningkatnya amal.

Diantara peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan tersebut adalah:

1. Perang Badar Kubra, terjadi pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun kedua dari hijrah. Pada perang ini, kaum muslimin yang secara kuantitas lebih sedikit dari kafir Quraisy berhasil memperoleh kemenangan. Di perang ini pula, terbunuh “Fir’aun”nya kafir Quraisy, Abu Jahal.

2. Fathu Makkah, terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun kedelapan dari hijrah. Pada peristiwa ini pula segala berhala yang ada di sekitar Ka’bah dihancurkan.

3. Perang Tabuk, terjadi pada bulan Ramadhan tahun kesembilan dari hijrah.

4. Menyebarnya Islam di Yaman, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 10 hijriyah

5. Penghancuran Berhala Uzza, terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedelapan hijriyah, dimana Khalid bin Walid menghancurkan sebuah rumah yang merupakan tempat penyembahan terhadap berhala Uzza. Rasulullah Saw pun bersabda “Itulah Uzza, maka janganlah kamu menyembahnya lagi selama-lamanya”

6. Penghancuran Berhala Laata, terjadi pada bulan Ramadhan tahun kesembilan hijriyah, saat ini Nabi Saw memenuhi permintaan penduduk Thaif yang ingin belajar tentang Islam. Disana Rasulullah Saw menghancurkan Laata, salah satu berhala besar yang pernah disembah oleh penduduk Thaif.

7. Peristiwa Zallaqa, terjadi pada hari Jum’at tanggal 25 Ramadhan tahun 479 hijriyah, dimana terjadi perang antara pasukan Islam melawan kaum Frank pimpinan Alvonso VI di daerah dekat Portugal saat ini.

8. Perang ‘Ain Jalut, terjadi pada hari Jum’at tanggal 15 Ramadhan 658 hijriyah. Saat itu kaum muslimin melawan pasukan raksasa dari mongol yang sebelumnya berhasil meluluh lantakkan kota Baghdad dan menandai berakhirnya dinasti Abbasiyah. Perang sengit ini berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin sehingga orang mongol terpaksa mundur. Pasukan muslimin yang dipimpin langsung oleh Sultan Qutuz (Sultan Kerajaan Mamalik di Mesir) berhasil menegakkan kekuasaan Islam kembali di daerah Syam yang sebelumnya secara de facto di kuasai oleh mongol.

9. Fathu Andalus/Spanyol, terjadi pada tanggal 28 Ramadhan 92 hijriyah dengan pasukan yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad.

10. Pembebasan kembali tanah yang dikuasai kaum Salib oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, terjadi pada bulan Ramadhan tahun 584 hijriyah.

11. Perang Yakhliz, terjadi pada tanggal 15 Ramadhan 1294 hijriyah. Pada perang ini, tentara Islam dari dinasti Utsmany dipimpin oleh Ahmad Mukhtar Basya dengan pasukan berjumlah 34.000 berhasil mengalahkan tentara Rusia yang berjumlah 740.000. Kurang lebih 10.000 tentara Rusia tewas dalam pertempuran tersebut.

12. Perang Yom Kippur, terjadi pada tanggal 10 Ramadhan 1390 hijriyah antara pasukan Islam (Mesir dan Syria) melawan Israel. Pada perang tersebut, tentara Islam berhasil merebut benteng dan garis Bar Lev yang merupakan daerah pertahanan Israel. Pada perang ini pula, tanah palestina berhasil direbut kembali dari pendudukan mutlak Israel.

13. Dan masih banyak peristiwa penting lainnya

Selain peristiwa tersebut diatas, bulan Ramadhan juga merupakan bulan diturunkannya kitab-kitab dan lembaran-lembaran suci. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: Allah memberikan kemuliaan kepada bulan puasa ini dari bulan-bulan lainnya dengan memilih bulan ini sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.

Di awal bulan Ramadhan, diturunkan lembaran suci (shuhuf) kepada Nabi Ibrahim as. Kemudian diturunkan kitab Taurat, kitab Zabur, kitab Injil dan Al-Qur’an juga di bulan Ramadhan.

Dari berbagai peristiwa diatas, kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa seorang muslim harus bisa merespon kondisi disekitarnya, mampu berdialog dengan zamannya dan menjauhi apologi-apologi yang negatif. Buktinya, walaupun dalam keadaan puasa, namun kaum muslimin masih sanggup untuk berjuang dan meningkatkan produktifitasnya. Melaksanakan kewajiban agama jangan dijadikan alasan untuk abai dan berleha-leha dari kewajiban kehidupan pribadi dan sosial. Islam malah memberikan pilihan untuk berbuka bagi yang melaksanakan perjalanan. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam sama sekali tidak menjadikan syariatnya sebagai penghambat produktifitas sebagaimana yang sering didengung-dengungkan oleh kaum liberal dan komunis.

Sumber: http://zamzamisaleh.blogspot.com/2014/06/peristiwa-peristiwa-penting-yang.html

 

Syariat Puasa Ramadhan

feat03

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Sebelum mewajibkan puasa Ramadhan bagi kaum Muslimin tahun ke-2 hijriyah, Allah SWT telah mensyariatkan puasa kepada para nabi terdahulu.

Menurut Ibnu Jarir Al-Thabari, syariat puasa pertama diterima oleh Nabi Nuh AS setelah beliau dan kaumnya diselamatkan oleh Allah SWT dari banjir bandang. Nabi Daud AS melanjutkan tradisi puasa dengan cara sehari puasa dan sehari berbuka.

Dalam pernyataannya Dawud AS berkata, “Adapun hari yang aku berpuasa di dalamnya adalah untuk mengingat kaum fakir, sedangkan hari yang aku berbuka untuk mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.”

Pernyataan Dawud AS tersebut ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.” (HR. Muslim).

Nabi Musa AS kemudian mewarisi tradisi berpuasa. Menurut para ahli tafsir, Musa dan kaum Yahudi telah melaksanakan puasa selama 40 hari (QS. Al Baqarah: 40). Salah satunya jatuh pada tanggal 10 bulan Muharram yang dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas kemenangan yang diberikan oleh Allah SWT dari kejaran Firaun.

Puasa 10 Muharram ini dikerjakan oleh kaum Yahudi Madinah dan Rasul SAW menegaskan umat Islam lebih berhak berpuasa 10 Muharram dari pada kaum Yahudi karena hubungan keagamaan memiliki kaitan yang lebih erat dibandingkan dengan hubungan kesukuan.

Untuk membedakannya, Rasul SAW kemudian mensyariatkan puasa sunah tanggal 9 dan 10 Muharram, selain untuk membedakan puasa kaum Yahudi, juga ungkapan simbolik kemenangan kebenaran atas kebatilan.

Ibunda Nabi Isa AS juga melakukan puasa yang berbeda dengan para pendahulunya, yaitu dengan tidak berbicara kepada siapa pun. Allah SWT berfirman, “Maka jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Mahapemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’.” (QS. Maryam: 26).

Keempat riwayat di atas merupakan sejarah puasa agama samawi yang menjadi rujukan  disyariatkannya puasa dalam Islam. Adapun puasa agama ardhi (agama buatan manusia), kendati sama sekali bukan rujukan namun mereka juga telah melakukan puasa dengan model yang berbeda-beda.

Sebelum puasa Ramadhan diwajibkan, Rasul SAW telah memerintahkan kaum Muslimin puasa Hari Asyura tanggal 9 dan 10 Muharram. Namun begitu perintah puasa Ramadhan tiba, puasa Asyura yang sejatinya ditambah satu hari oleh Rasul SAW menjadi puasa sunah.

Tingginya tingkat kesulitan dalam melaksanakan puasa menjadikan syariat ini turun belakangan setelah perintah haji, shalat dan zakat. Wajar jika kemudian ayat-ayat tentang puasa Ramadhan turun secara berangsung-angsur: Pertama, perintah wajib puasa Ramadhan dengan pilihan. (QS. Al-Baqarah: 183-184).

Kaum Muslimin boleh memilih berpuasa atau tidak berpuasa, namun mereka yang berpuasa lebih utama dan yang tidak berpuasa diharuskan membayar fidyah. Kedua, kewajiban berpuasa secara menyeluruh kepada kaum Muslimin, dengan pengecualian bagi orang-orang yang sakit dan bepergian serta manula yang tidak kuat lagi berpuasa (QS. Al-Baqarah: 185).

Awal mulanya kaum Muslimin berpuasa sekitar 22 jam karena setelah berbuka mereka langsung berpuasa kembali setelah shalat Isya. Namun, setelah sahabat Umar bin Khathab mengungkapkan kejadian mempergauli istrinya pada satu malam Ramadhan kepada Rasul SAW, turunlah QS Al Baqarah: 187 yang menegaskan halalnya hubungan suami-istri di malam Ramadhan dan ketegasan batas waktu puasa yang dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari.

Inilah syariat puasa dalam Islam yang menyempurnakan tradisi puasa seluruh agama samawi yang ada sebelumnya.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/20/m7g44s-syariat-puasa-ramadhan

Cara Rasulullah Menyambut Ramadhan

feat02

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Adalah Rasul SAW yang mempersiapkan diri betul menyambut kedatangan setiap bulan Ramadhan.

Persiapan Rasul tersebut bukan hanya bersifat jasmani, melainkan paduan jasmani dan rohani mengingat puasa sebagaimana ibadah yang lain adalah paduan ibadah jasmani dan rohani, di samping ibadah yang paling berat di antara ibadah wajib (fardu) lainnya.

Oleh sebab itu, ia disyariatkan paling akhir di antara ibadah wajib lainnya. Persiapan jasmani tersebut dilakukan oleh Rasul SAW melalui puasa Senin-Kamis dan puasa hari-hari putih (tanggal 13,14 dan 15) setiap bulan sejak bulan syawal hingga Sya’ban.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa puasa Senin dan Kamis. Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasul, engkau senantiasa puasa Senin dan Kamis.”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya pada setiap hari Senin dan Kamis Allah SWT mengampuni dosa setiap Muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan. Allah berfirman, ‘Tangguhkanlah keduanya sampai keduanya berdamai’.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam kaitannya dengan puasa tiga hari setiap bulan, Rasul SAW bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari RA, “Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa setiap bulan, maka puasalah tanggal 13,14 dan 15.” (HR. Tirmidzi).

Sedangkan persiapan rohani dilakukan oleh Rasul SAW melalui pembiasaan shalat tahajud setiap malam serta zikir setiap waktu dan kesempatan. Bahkan, shalat tahajud yang hukumnya sunah bagi kaum Muslimin menjadi wajib bagi pribadi Rasul SAW.

Diriwayatkan oleh Aisyah RA yang bertanya kepada Rasul SAW mengenai pembiasaan ssalat tahajud, padahal dosa-dosa beliau telah diampuni oleh Allah SWT, Rasul SAW menjawab dengan nada yang sangat indah, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

Memasuki bulan Sya’ban, Rasul SAW meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah puasa, qiyamul lail, zikir dan amal salehnya. Peningkatan tersebut dikarenakan semakin dekatnya bulan Ramadhan yang akan menjadi puncak aktifitas kesalehan dan spiritualitas seorang Muslim.

Jika biasanya dalam sebulan Rasul SAW berpuasa rata-rata 11 hari, maka di bulan Sya’ban ini beliau berpuasa hampir sebulan penuh. Dikisahkan oleh Aisyah RA bahwasanya, “Rasulullah banyak berpuasa (di bulan Sya’ban) sehingga kita mengatakan, beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam riwayat Usama bin Zayed RA dikatakan, “Aku bertanya kepada Rasul, ‘Wahai Rasulullah, Aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Sya’ban adalah bulan yang dilupakan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia diangkat (ke langit) oleh Allah SWT dan aku menyukai pada saat amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa’.” (HR. An-Nasa’i).

Sya’ban adalah bulan penutup rangkaian puasa sunah bagi Rasulullah SAW sebelum berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Jika Rasul telah mempersiapkan penyambutan Ramadhan dengan berpuasa minimal 11 hari di luar Sya’ban dan 20-an hari di bulan Sya’ban, berarti untuk menyambut Ramadhan Rasulullah SAW telah berpuasa paling sedikitnya 130 hari atau sepertiga lebih dari jumlah hari dalam setahun.

Maka, hanya persiapan yang baiklah yang akan mendapat hasil yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk mempersiapkan diri di bulan Sya’ban sehingga memperoleh hasil yang maksimal di akhir Ramadhan.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/15/m76wv6-cara-rasulullah-sambut-ramadhan

Asal Penamaan Ramadhan

feat01

An-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, menyebutkan beberapa pendapat ahli bahasa, terkait asal penamaan ramadhan.

Pertama, diambil dari kata ar-Ramd [arab: الرمض] yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan ramadhan, karena kewajiban puasa di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik. Pendapat ini disampaikan oleh al-Ashma’i – ulama ahli bahasa dan syair arab – (w. 216 H), dari Abu Amr.

Kedua, diambil dari kata ar-Ramidh [arab: الرميض], yang artinya awan atau hujan yang turun di akhir musim panas, memasuki musim gugur. Hujan ini disebut ar-Ramidh karena melunturkan  pengaruh panasnya matahari. Sehingga bulan ini disebut Ramadhan, karena membersihakn badan dari berbagai dosa. Ini merupakan pendapat al-Kholil bin Ahmad al-Farahidi – ulama tabiin ahli bahasa, peletak ilmu arudh – (w. 170 H).

Ketiga, nama ini diambil dari pernyataan orang arab, [رمضت النصل] yang artinya mengasah tombak dengan dua batu sehingga menjadi tajam. Bulan ini dinamakan ramadhan, karena masyarakat arab di masa silam mengasah senjata mereka di bulan ini, sebagai persiapan perang di bulan syawal, sebelum masuknya bulan haram. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Azhari – ulama ahli bahasa, penulis Tahdzib al-Lughah – (w. 370 H).

Kemudian an-Nawawi menyebutkan keterangan al-Wahidi,

قال الواحدي: فعلى قول الأزهري: الاسم جاهلي، وعلى القولين الأولين يكون الاسم إسلاميًا

Al-Wahidi mengatakan, berdasarkan keterangan al-Azhari, berarti ramadhan adalah nama yang sudah ada sejak zaman Jahiliyah.Sementara berdasarkan dua pertama, berarti nama ramadhan adalah nama islami. (Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, 3/126). Demikian, Allahu a’lam.

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-dinamakan-bulan-ramadhan/