Siapkan Ramadhanmu!

Ramadhan
Assalamu’alaikum, sahabat. Tentu kita ingin agar Ramadhan kita tahun ini lebih baik dibanding Ramadhan sebelumnya. Berikut ini tips dari Banu Muhammad, S.E.,M.M. agar Ramadhan kita lebih baik dari Ramadhan sebelumnya.
1) Penting sekali kita bangun kesadaran akan pentingnya Ramadhan dalam kehidupan kita. Ilmu menjadi kunci kesadaran. Ramadhan masih beberapa bulan lagi. Itu berarti, masih ada waktu bagi kita menyadarkan diri…
2) Mari pejamkan mata kita, tanya ke hati kita, apakah kita membutuhkan Ramadhan untuk menghapus dosa kita, Ramadhan membersihkan hati, meluruskan orientasi, dan menyiapkan perbekalan… 3) Kalau belum merasa butuh Ramadhan, menangislah akan ketidaksadaran ruhiyahnya kita.. Segera kondisikan ruh dan hati kita untuk bisa sedikit lebih lembut 4) Ba’da ashar atau menjelang maghrib Ramadhan jangan sibuk dengan apapun kecuali sibuk dengan persiapan hati memasuki detik-detik Ramadhan. Hadirkan kebahagiaan, kegembiraan dan kerinduan yg membuncah di dada 5) Kondisikan diri dalam keadaan suci dengan wudhu saat memasuki detik pertama Ramadhan. Sadarlah detik Ramadhan dan detik di luar Ramadhan beda nilainya… 6) Panjatkan doa kepada Alloh agar kiranya Alloh memberikan taufik, hidayah, dan kemampuan untuk kita bisa mengisi Ramadhan dengan amalan sholih, menghindarkan diri dari kema’shiatan, dan dipilih Alloh termasuk hamba-Nya yang mendapat keberkahan Lailatul Qodr.   tarawih   7) Rencanakan semua target Ramadhan dengan detail, pastikan semua target ibadah kita tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu. Pastikan tarawih berjama’ah bersama Imam di masjid sepanjang malam Ramadhan. 8) Atur semua urusan pekerjaan dan urusan keluarga dengan baik. Jangan sampai sibuk dengan makanan ta’jil, baju baru, mudik dan lain-lain sementara urusan pokok ibadah, tilawah, i’tikaf justru terlewatkan.. Ingat waktu Ramadhan mahal harganya, tak ada jaminan kita bertemu Ramadhan tahun depan. 9) Pastikan ada peningkatan amaliah Ramadhan dari hari ke hari, evaluasi diri dan evaluasi keluarga kita. 10) Sempatkan i’tikaf 10 hari penuh. Jika tak bisa, sempatkan di malam ganjil, atau setidaknya malam 27. Bagi pemudik, mudiklah lebih awal atau mudiklah malam takbiran atau setelah ‘Ied. Nabi tak pernah meninggalkan itikaf sejak syariat Ramadhan diperintahkan, bahkan di Ramadhan terakhir beliau i’tikaf 20 hari. Kejar Lailatul Qodr dengan kesungguhan. 11) Romadhon adalah saat di mana membangun kesholihan keluarga dan masyarakat menjadi lebih mudah, pastikan kita mengoptimalkan kesempatan yang ada. Sahur bersama, buka bersama, berbagi dengan tetangga, acara Ramadhan di masjid, dan lain-lain.   crowded mall   12) Hindarkan buka puasa bersama di mall atau restoran, biasanya sangat ramai dan membuat kesempatan sholat maghrib berjamaah dan tarawih terlewatkan. Buka puasa bersama keluarga atau teman baiknya dilaksanakan dirumah dan diatur agar ibadah utama tak terlewatkan 13) Hindarkan diri dari kekenyangan saat sahur dan buka. Esensi Ramadhan adalah memperbanyak ibadah dan mengurangi makan. 14) Kewajiban maaliyah (harta) jangan lupa, hitung dengan seksama dan keluarkan dengan baik dan benar, lebihkan jika perlu untuk antisipasi salah hitung atas pendapatan tak tercatat. 15) Bayarlah zakat fitrah dengan sepenuh hati agar Alloh berkenan membersihkan diri dan harta kita serta menerima ibadah Ramadhan kita. 16) Bertakbirlah di malam Ied dengan getaran hati plus rasa harap, cinta dan sesal. 17) Melangkahkan menuju tempat sholat Ied sambil terus mengagungkan asma Alloh.. Nikmati setiap takbir sholat Ied dan dengarkan nasihat khutbah Ied dengan seksama. Demikian, semoga bermanfaat. Mohon doa agar saya insyaaAllah bisa lebih baik di romadhon tahun ini… Wallahu a’lam. Taqobalallohu minna wa minkum.. Akhukum fillah, Banu.

Ramadhan Bulan Al Quran

feat05

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Oleh sebab itu, perbanyaklah membaca Al-Qur’an, baik di luar shalat maupun di dalam shalat khususnya ketika kita melaksanakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan. Sebagai hamba yang beriman, sudah seharusnyalah kita senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an yang tidak ada keraguan didalamnya dan dipenuhi dengan kemuliaan, sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’aala,

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (Al-Baqarah 185)

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” ( Al Kahfi: 1-3)

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Al Anbiyaa: 10).

Menurut Quraisy Shihab (1997), Al-Qur’an yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tidak ada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis-baca 5000 tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Qur’an Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia. Tiada bacaan semacam Al-Qur’an yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja, dan anak-anak.

Selain senantiasa membacanya, Al-Qur’an sebagai pegangan hidup seorang muslim memberikan implikasi bahwa Al-Qur’an harus pula dihayati akan nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya, agar nilai-nilai itu bisa menjadi kekuatan yang memotivasi dan mendasari kegiatan sehari-hari, dan menjadi alat perjuangan di bidang kemasyarakatan atau keilmuan. Lebih indah lagi kalau penghayatan itu meningkat atau berkembang menjadi usaha untuk meningkatkan pengkajian tafsir al-Qur’an (Rahardjo, 2002), bahkan berusaha menghafalkannya sebagai bagian dari ibadah.

Membaca, memahami, dan menghafal al-Qur’an bukan fardhu kifayah yang dapat diwakilkan atau dibebankan kepada para ulama. Dengan mengikut teladan para sahabat, semua itu dilakukan sebagai kewajiban individu bagi setiap muslim.

Mari kita memohon kepada Allah SWT dengan kedatangan bulan Ramadhan agar kita dan keluarga kita mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, memahami arti dan makna yang tersurat maupun tersirat, dan mampu menghafal Al-Qur’an dengan baik dan sempurna. Insyaa Allah jika setiap individu mengamalkan hal ini, akan terbentuklah komunitas yang berakhlak qur’ani yang ridho atas ketentuan Allah SWT dan Allah SWT meridhoi mereka. Amiin yaa robbal ‘alamiin.

(dari berbagai sumber)

Ketika Si Kecil Mulai Berpuasa

feat04

Tidak ada kewajiban bagi anak- anak yang belum akil baligh untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Tapi sebagai orang tua tentu kita ingin mempersiapkan anak agar jika waktunya tiba wajib berpuasa, mereka sudah tidak lagi merasa gagap dan berat melaksanakannya.

Pertanyaan paling umum, kapankah anak mulai diperkenalkan dengan puasa di bulan Ramadhan? Menurut saya dari bayi saja….Loh, masa bayi disuruh puasa? Tenaaaang…..maksud saya kenalkan kemeriahan Ramadhan sedini mungkin, bahkan sejak anak masih bayi.

Berikut saya akan berbagi beberapa tips yang mungkin bisa berguna untuk membantu pembaca yang akan mendampingi buah hati berpuasa di bulan Ramadhan mendatang.

• Dengungkan kemeriahan Ramadhan jauh hari sebelum waktunya datang. Sempatkan untuk memasukan tema Ramadhan dalam percakapan dan pembahasan sehari-hari sehingga anak aware dengan segala sesuatu tentang berpuasa.

• Ajarkan doa doa yang berkaitan dengan puasa, seperti niat puasa dan doa buka puasa. Jika perlu berikan reward atau permainan agar anak lebih semangat menghafalnya

• Ajarkan anak bangun pagi. Ketika ayah bundanya bangun shalat shubuh, bangunkan si kecil, meskipun mereka belum mengerti atau belum bisa ikut shalat minimal mereka akan mengerti bahwa orang Islam tiap shubuh harus bangun untuk shalat.

• Ketika Ramadhan tiba, ajak si kecil bangun sahur. Walaupun mereka masih terlalu kecil untuk ikut berpuasa (masih bayi misalnya seperti yang saya singgung di atas) , tetap ajak untuk ikut mengikuti serunya makan sahur di malam buta.

• Seperti juga halnya sahur, libatkan juga anak dengan keseruan saat berbuka puasa. Ajak mereka menyiapkan takjil dan makan bersama dengan keluarga lain yang berpuasa di meja makan.

• Ajak anak ikut serta dengan ritual ibadah yang menjadi khas bulan Ramadhan seperti tarawih dan I’tikaf di masjid. Tentu dengan porsi yang disesuaikan dengan umur dan kegiatan anak.

• Ketika anak mulai berpuasa, dampingi dan temani!! Tentu di awal- awal mereka perlu penyesuaian, pada saat ini perlu figur orang tua. Alihkan perhatian anak pada hal hal lain sehingga tidak fokus pada rasa lapar dan haus. Ajak tidur siang lebih panjang, bacakan cerita atau siapkan ‘peralatan tempur’ yang dapat membuat si kecil senang dan lupa bahwa ia sedang berpuasa.

• Kurangi dan batasi aktivitas fisiknya agar anak tidak cepat merasa lemas

• Yang terakhir dan mungkin menurut saya ini lumayan penting. MANAGE EXPECTATION!!! Aturlah ekspektasi Anda sebagai orang tua ketika mulai mengajarkan puasa kepada anak. Setiap anak dan keluarga memiliki standar, nilai, dan kekuatan yang berbeda. Tentukan standar Anda sendiri dan jangan terlalu mempersulit diri dengan melihat standar keluarga lain.

Jika kita sebagai orang dewasa melakukan puasa karena keimanan dan perasaan wajib sebagai orang bertakwa, maka lain dengan anak-anak. Di awal mereka akan merasakan ini sebagai tekanan dan perintah, dan itu sangat wajar. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk mengisi qolbu anak-anak agar di masanya ketika mereka sudah wajib berpuasa, mereka dapat melaksanakan puasa Ramadhan dan puasa-puasa lainnya dengan penuh ketakwaan dan kecintaan pada Allah

Semoga bermanfaat, demi generasi penerus Islam yang kuat!!

#AnakPuasa #Ramadhan #Parenting #Puasa

Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Ramadhan

ramadankareem1

Dalam sejarahnya, ada begitu banyak peristiwa penting yang pernah terjadi di bulan Ramadhan. Peristiwa-peristiwa tersebut mengajarkan kita bahwa bulan Ramadhan bukan bulan bermalas-malasan, bukan bulan berlelah-lelahan dengan mengatasnamakan “lelah karena sedang berpuasa”. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bulan Ramadhan mestinya adalah bulan meningkatnya produktifitas, karena syiar yang dibawa bulan Ramadhan dengan puasanya adalah syiar kekuatan, kesungguhan dan meningkatnya amal.

Diantara peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan tersebut adalah:

1. Perang Badar Kubra, terjadi pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun kedua dari hijrah. Pada perang ini, kaum muslimin yang secara kuantitas lebih sedikit dari kafir Quraisy berhasil memperoleh kemenangan. Di perang ini pula, terbunuh “Fir’aun”nya kafir Quraisy, Abu Jahal.

2. Fathu Makkah, terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun kedelapan dari hijrah. Pada peristiwa ini pula segala berhala yang ada di sekitar Ka’bah dihancurkan.

3. Perang Tabuk, terjadi pada bulan Ramadhan tahun kesembilan dari hijrah.

4. Menyebarnya Islam di Yaman, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 10 hijriyah

5. Penghancuran Berhala Uzza, terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedelapan hijriyah, dimana Khalid bin Walid menghancurkan sebuah rumah yang merupakan tempat penyembahan terhadap berhala Uzza. Rasulullah Saw pun bersabda “Itulah Uzza, maka janganlah kamu menyembahnya lagi selama-lamanya”

6. Penghancuran Berhala Laata, terjadi pada bulan Ramadhan tahun kesembilan hijriyah, saat ini Nabi Saw memenuhi permintaan penduduk Thaif yang ingin belajar tentang Islam. Disana Rasulullah Saw menghancurkan Laata, salah satu berhala besar yang pernah disembah oleh penduduk Thaif.

7. Peristiwa Zallaqa, terjadi pada hari Jum’at tanggal 25 Ramadhan tahun 479 hijriyah, dimana terjadi perang antara pasukan Islam melawan kaum Frank pimpinan Alvonso VI di daerah dekat Portugal saat ini.

8. Perang ‘Ain Jalut, terjadi pada hari Jum’at tanggal 15 Ramadhan 658 hijriyah. Saat itu kaum muslimin melawan pasukan raksasa dari mongol yang sebelumnya berhasil meluluh lantakkan kota Baghdad dan menandai berakhirnya dinasti Abbasiyah. Perang sengit ini berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin sehingga orang mongol terpaksa mundur. Pasukan muslimin yang dipimpin langsung oleh Sultan Qutuz (Sultan Kerajaan Mamalik di Mesir) berhasil menegakkan kekuasaan Islam kembali di daerah Syam yang sebelumnya secara de facto di kuasai oleh mongol.

9. Fathu Andalus/Spanyol, terjadi pada tanggal 28 Ramadhan 92 hijriyah dengan pasukan yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad.

10. Pembebasan kembali tanah yang dikuasai kaum Salib oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, terjadi pada bulan Ramadhan tahun 584 hijriyah.

11. Perang Yakhliz, terjadi pada tanggal 15 Ramadhan 1294 hijriyah. Pada perang ini, tentara Islam dari dinasti Utsmany dipimpin oleh Ahmad Mukhtar Basya dengan pasukan berjumlah 34.000 berhasil mengalahkan tentara Rusia yang berjumlah 740.000. Kurang lebih 10.000 tentara Rusia tewas dalam pertempuran tersebut.

12. Perang Yom Kippur, terjadi pada tanggal 10 Ramadhan 1390 hijriyah antara pasukan Islam (Mesir dan Syria) melawan Israel. Pada perang tersebut, tentara Islam berhasil merebut benteng dan garis Bar Lev yang merupakan daerah pertahanan Israel. Pada perang ini pula, tanah palestina berhasil direbut kembali dari pendudukan mutlak Israel.

13. Dan masih banyak peristiwa penting lainnya

Selain peristiwa tersebut diatas, bulan Ramadhan juga merupakan bulan diturunkannya kitab-kitab dan lembaran-lembaran suci. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: Allah memberikan kemuliaan kepada bulan puasa ini dari bulan-bulan lainnya dengan memilih bulan ini sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.

Di awal bulan Ramadhan, diturunkan lembaran suci (shuhuf) kepada Nabi Ibrahim as. Kemudian diturunkan kitab Taurat, kitab Zabur, kitab Injil dan Al-Qur’an juga di bulan Ramadhan.

Dari berbagai peristiwa diatas, kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa seorang muslim harus bisa merespon kondisi disekitarnya, mampu berdialog dengan zamannya dan menjauhi apologi-apologi yang negatif. Buktinya, walaupun dalam keadaan puasa, namun kaum muslimin masih sanggup untuk berjuang dan meningkatkan produktifitasnya. Melaksanakan kewajiban agama jangan dijadikan alasan untuk abai dan berleha-leha dari kewajiban kehidupan pribadi dan sosial. Islam malah memberikan pilihan untuk berbuka bagi yang melaksanakan perjalanan. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam sama sekali tidak menjadikan syariatnya sebagai penghambat produktifitas sebagaimana yang sering didengung-dengungkan oleh kaum liberal dan komunis.

Sumber: http://zamzamisaleh.blogspot.com/2014/06/peristiwa-peristiwa-penting-yang.html

 

Syariat Puasa Ramadhan

feat03

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Sebelum mewajibkan puasa Ramadhan bagi kaum Muslimin tahun ke-2 hijriyah, Allah SWT telah mensyariatkan puasa kepada para nabi terdahulu.

Menurut Ibnu Jarir Al-Thabari, syariat puasa pertama diterima oleh Nabi Nuh AS setelah beliau dan kaumnya diselamatkan oleh Allah SWT dari banjir bandang. Nabi Daud AS melanjutkan tradisi puasa dengan cara sehari puasa dan sehari berbuka.

Dalam pernyataannya Dawud AS berkata, “Adapun hari yang aku berpuasa di dalamnya adalah untuk mengingat kaum fakir, sedangkan hari yang aku berbuka untuk mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.”

Pernyataan Dawud AS tersebut ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.” (HR. Muslim).

Nabi Musa AS kemudian mewarisi tradisi berpuasa. Menurut para ahli tafsir, Musa dan kaum Yahudi telah melaksanakan puasa selama 40 hari (QS. Al Baqarah: 40). Salah satunya jatuh pada tanggal 10 bulan Muharram yang dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas kemenangan yang diberikan oleh Allah SWT dari kejaran Firaun.

Puasa 10 Muharram ini dikerjakan oleh kaum Yahudi Madinah dan Rasul SAW menegaskan umat Islam lebih berhak berpuasa 10 Muharram dari pada kaum Yahudi karena hubungan keagamaan memiliki kaitan yang lebih erat dibandingkan dengan hubungan kesukuan.

Untuk membedakannya, Rasul SAW kemudian mensyariatkan puasa sunah tanggal 9 dan 10 Muharram, selain untuk membedakan puasa kaum Yahudi, juga ungkapan simbolik kemenangan kebenaran atas kebatilan.

Ibunda Nabi Isa AS juga melakukan puasa yang berbeda dengan para pendahulunya, yaitu dengan tidak berbicara kepada siapa pun. Allah SWT berfirman, “Maka jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Mahapemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’.” (QS. Maryam: 26).

Keempat riwayat di atas merupakan sejarah puasa agama samawi yang menjadi rujukan  disyariatkannya puasa dalam Islam. Adapun puasa agama ardhi (agama buatan manusia), kendati sama sekali bukan rujukan namun mereka juga telah melakukan puasa dengan model yang berbeda-beda.

Sebelum puasa Ramadhan diwajibkan, Rasul SAW telah memerintahkan kaum Muslimin puasa Hari Asyura tanggal 9 dan 10 Muharram. Namun begitu perintah puasa Ramadhan tiba, puasa Asyura yang sejatinya ditambah satu hari oleh Rasul SAW menjadi puasa sunah.

Tingginya tingkat kesulitan dalam melaksanakan puasa menjadikan syariat ini turun belakangan setelah perintah haji, shalat dan zakat. Wajar jika kemudian ayat-ayat tentang puasa Ramadhan turun secara berangsung-angsur: Pertama, perintah wajib puasa Ramadhan dengan pilihan. (QS. Al-Baqarah: 183-184).

Kaum Muslimin boleh memilih berpuasa atau tidak berpuasa, namun mereka yang berpuasa lebih utama dan yang tidak berpuasa diharuskan membayar fidyah. Kedua, kewajiban berpuasa secara menyeluruh kepada kaum Muslimin, dengan pengecualian bagi orang-orang yang sakit dan bepergian serta manula yang tidak kuat lagi berpuasa (QS. Al-Baqarah: 185).

Awal mulanya kaum Muslimin berpuasa sekitar 22 jam karena setelah berbuka mereka langsung berpuasa kembali setelah shalat Isya. Namun, setelah sahabat Umar bin Khathab mengungkapkan kejadian mempergauli istrinya pada satu malam Ramadhan kepada Rasul SAW, turunlah QS Al Baqarah: 187 yang menegaskan halalnya hubungan suami-istri di malam Ramadhan dan ketegasan batas waktu puasa yang dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari.

Inilah syariat puasa dalam Islam yang menyempurnakan tradisi puasa seluruh agama samawi yang ada sebelumnya.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/20/m7g44s-syariat-puasa-ramadhan

Cara Rasulullah Menyambut Ramadhan

feat02

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Adalah Rasul SAW yang mempersiapkan diri betul menyambut kedatangan setiap bulan Ramadhan.

Persiapan Rasul tersebut bukan hanya bersifat jasmani, melainkan paduan jasmani dan rohani mengingat puasa sebagaimana ibadah yang lain adalah paduan ibadah jasmani dan rohani, di samping ibadah yang paling berat di antara ibadah wajib (fardu) lainnya.

Oleh sebab itu, ia disyariatkan paling akhir di antara ibadah wajib lainnya. Persiapan jasmani tersebut dilakukan oleh Rasul SAW melalui puasa Senin-Kamis dan puasa hari-hari putih (tanggal 13,14 dan 15) setiap bulan sejak bulan syawal hingga Sya’ban.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa puasa Senin dan Kamis. Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasul, engkau senantiasa puasa Senin dan Kamis.”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya pada setiap hari Senin dan Kamis Allah SWT mengampuni dosa setiap Muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan. Allah berfirman, ‘Tangguhkanlah keduanya sampai keduanya berdamai’.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam kaitannya dengan puasa tiga hari setiap bulan, Rasul SAW bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari RA, “Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa setiap bulan, maka puasalah tanggal 13,14 dan 15.” (HR. Tirmidzi).

Sedangkan persiapan rohani dilakukan oleh Rasul SAW melalui pembiasaan shalat tahajud setiap malam serta zikir setiap waktu dan kesempatan. Bahkan, shalat tahajud yang hukumnya sunah bagi kaum Muslimin menjadi wajib bagi pribadi Rasul SAW.

Diriwayatkan oleh Aisyah RA yang bertanya kepada Rasul SAW mengenai pembiasaan ssalat tahajud, padahal dosa-dosa beliau telah diampuni oleh Allah SWT, Rasul SAW menjawab dengan nada yang sangat indah, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

Memasuki bulan Sya’ban, Rasul SAW meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah puasa, qiyamul lail, zikir dan amal salehnya. Peningkatan tersebut dikarenakan semakin dekatnya bulan Ramadhan yang akan menjadi puncak aktifitas kesalehan dan spiritualitas seorang Muslim.

Jika biasanya dalam sebulan Rasul SAW berpuasa rata-rata 11 hari, maka di bulan Sya’ban ini beliau berpuasa hampir sebulan penuh. Dikisahkan oleh Aisyah RA bahwasanya, “Rasulullah banyak berpuasa (di bulan Sya’ban) sehingga kita mengatakan, beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam riwayat Usama bin Zayed RA dikatakan, “Aku bertanya kepada Rasul, ‘Wahai Rasulullah, Aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Sya’ban adalah bulan yang dilupakan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia diangkat (ke langit) oleh Allah SWT dan aku menyukai pada saat amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa’.” (HR. An-Nasa’i).

Sya’ban adalah bulan penutup rangkaian puasa sunah bagi Rasulullah SAW sebelum berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Jika Rasul telah mempersiapkan penyambutan Ramadhan dengan berpuasa minimal 11 hari di luar Sya’ban dan 20-an hari di bulan Sya’ban, berarti untuk menyambut Ramadhan Rasulullah SAW telah berpuasa paling sedikitnya 130 hari atau sepertiga lebih dari jumlah hari dalam setahun.

Maka, hanya persiapan yang baiklah yang akan mendapat hasil yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk mempersiapkan diri di bulan Sya’ban sehingga memperoleh hasil yang maksimal di akhir Ramadhan.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/15/m76wv6-cara-rasulullah-sambut-ramadhan